PROSPEK TUMBUH BANK SYARIAH

PROSPEK TUMBUH BANK SYARIAH
Oleh : Dewi Tri Utami

I. PENDAHULUAN
Sistem lembaga keuangan dalam mekanisme keuangan suatu negara telah menjadi instrument penting dalam memperlancar jalannya pembangunan suatu negara. Indonesia,yang mayoritas penduduknya beragama islam tentu saja menuntut adanya sistem baku yang mengatur dalam prakteknya.
Khusus di bidang perbankan,sejak berdirinya De Javache Bank pada tahun 1972,telah menanamkan nilai-nilai sistem perbankan yang sampai sekarang masih berlaku di masyarakat,tanpa kecuali umat Islam. Persoalan bunga bank sudah lama menjadi ganjalan umat Islam yang harus dicari solusinya. Suatu kemajuan menjelang abad XX terjadi kebangkitan umat Islam dalam segala aspek. Dalam sistem keuangan,berkembang pemikiran yang mengarah pada

reorientasi system keuangan,yaitu dengan menghapuskan instrument utamanya: bunga. Usaha tersebut dilakukan. dengan tujuan mencapai kesesuaian dalam melaksanakan prinsip-prinsip ajaran Islam yang mengandung dasar-dasar keadilan,kejujuran dan kehalalan.
Keadaan di Indonesia mendukung bagi tumbuh kembangnya bank syariah. Pada tahun 1991 telah berdiri dua bank syariah yaitu BPR Syariah Dana Mardhotillah dan BPR Syariah Berkah Amal Sejahtera,keduanya bertempat di Bandung. Keberadaan perbankan Syariah di tanah air telah mendapatkan pijakan kokoh setelah lahirnya Undang-Undang Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 yang dengan tegas mengakui keberadaan dan berfungsinya Bank Bagi Hasil atau Bank Islam,bersamaan dengan itu berdirilah Bank Muamalat Indonesia kemudian diikuti oleh BPR Syariah Bangun Derajad Warga dan BPR Syariah Margi Rizki Bahagia,keduanya bertempat di Yogyakarta. Undang-undang tersebut kemudian di revisi menjadi UU Nomor 10 Tahun 1998,setelahnya berdiri satu Bank Umum Syariah (Bank Muamalat Indonesia) di tambah dengan 80 BPR Syariah dan disusul bank syariah lainny,kemudian di revisi lagi menjadi Undang-Undang No. 21 tahun 2008.
Menurut UU No. 21 Tahun 2008 agar tercapai tujuan pembangunan nasional dan dapat berperan aktif dalam persaingan global yang sehat, diperlukan partisipasi dan kontribusi semua elemen masyarakat untuk menggali berbagai potensi yang ada di masyarakat guna mendukung proses akselerasi ekonomi dalam upaya mereliasasikan tujuan pembangunan nasional. Salah satu bentuk penggalian potensi dan wujud potensi masyarakat dalam perekonomian tersebut adalah pengembangan sistem ekonomi berdasarkan nilai Islam (syariah). Prinsip syariah berlandaskan pada nilai-nilai keadilan, kemanfaatan, keseimbangan, dan keuniversalan. Nilai-nilai tersebut diterapkan dalam peraturan perbankan yang didasarkan pada prinsip syariah yang disebut perbankan syariah.
Keberadaan Bank Syariah diharapkan mampu memberikan sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pembiayaan yang dikeluarkannya. Melalui pembiayaan ini bank syariah dapat menjadi mitra dengan nasabah ,sehingga hubungan bank islam dengan nasabah tidak lagi sebagai kreditur dan debitur tetapi menjadi hubungan kemitraan.
Jika dilihat secara makro ekonomi,pengembangan bank syariah di Indonesia memiliki peluang besar karena peluang pasarnya sejurus dengan mayoritas penduduk di Indonesia. Terbukti dengan semakin pesatnya perkembangan bank syariah dewasa ini. Menurut sumber dari Outlook perbankan syariah 2014 yang di keluarkan BI,berikut adalah perkembangan yang dicapai:
KELOMPOK BANK 2011 2012 2013
BANK UMUM SYARIAH 11 11 11
UNIT USAHA SYARIAH 24 24 23
Jumlah Kantor 1737 2262 2526
BPRS 155 158 160
Jumlah Kantor 364 401 399
JUMLAH ACCOUNT DPK 8,2 10,8 12,3
JUMLAH PEKERJA 27.660 31.578 42.062
Sumber: Outlook Perbankan Syariah 2014

Berdasarkan latar belakang diatas,penulis tertarik untuk mengulas lebih dalam tentang “PROSPEK TUMBUH BANK SYARIAH”
II. PERTANYAAN
Berdasarkan uraian latar belakang dan diatas, maka dapat diketahui adanya beberapa permasalahan,yaitu:
1. Bagaimana prospek pertumbuhan Bank Syariah di masa depan?

III. TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas,tujuan yang ingin dicapai adalah:
1. Untuk mengetahui Bagaimana prospek pertumbuhan Bank Syariah di masa depan.

IV. TEORI
Bank syari’ah adalah lembaga keuangan yang pengoperasiannya dengan sistem bagi hasil. Menurut Undang-Undang No.21 tahun 2008 pasal 1 ayat kedua,bank syariah adalahbadan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. Sedangkan pengertian bank syariah (pasal 1 ayat 7) adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri atas bank umum syariah dan bank pembiayaan syariah.
Bank syari’ah adalah bank yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan jasa perbankan, dengan teknik perbankan yang dilakukan terjauh dari yang bertentangan dengan ajaran agama Islam (Syarif, Arbi, 2002: 21).
Kelebihan bank syariah dibandingkan bank konvensional adalah:
1. Adanya negosiasi antara pihak nasabah dan pihak bank untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.
2. Adanya prinsip bagi hasil jika perusahaan ingin menaikkan hasil usahanya namun kekurangan modal dapat mengajukan kredit dengan bank. Sehingga dapat memperoleh modal dengan cepat dan juga resiko yang ada akan lebih rendah dari pada pengajuan kredit di bank konvensional.
3. Pengusaha kecil akan terdorong untuk mengembangkan usahanya dengan bantuan pihak bank.
4. Resiko kerugian lebih kecil karena jika mengalami kerugian akan ditanggung bersama sesuai dengan perjanjian yang dibuat sebelumnya dengan pihak bank.

Dalam sistem perbankan konvensional selain berperan sebagai jembatan pemilik dana dan dunia usaha,perbankan juga masih menjadi penyekat keduanya karena tidak adanya transferability risk dan return. Tidak demikian halnya system perbankan syariah dimana perbankan syariah menjadi manajer investasi,wakil dan pemegang amanat dari pemilik dana atas investasi di sector riil. Dengan demikian seluruh keberhasilan dan resiko dunia usaha atau pertumbuhan ekonomi secara langsung di distribusikan pada pemilik dana sehingga menciptakan suasana harmoni. Skema produk perbankan syariah secara alamiah merujuk pada dua kategori kegiatan ekonomi yakni produksi dan distribusi.kategori pertama di fasilitasi melalui skema profit sharing (mudharabah) dan partnership (musyarakah). Sedangkan distribusi produk difasilitasi skema jual beli (murabahah) dan sewa menyewa (ijarah).
Peran Bank Syariah
Sesuai fungsinya sebagai lembaga pembiayaan ,bank syariah memfokuskan kegiatan usahanya untu menyediakan dana pada sektor usaha dan sektor lainnya yang membutuhkan kredit.
Berdasarkan sektor usaha (diluar sektor lainnya), pembiayaan bank-bank syariah masih terkonsentrasi pada sektor jasa dunia usaha, dan sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR),masing-masing dengan pangsa sebesar 25,2% dan 8,6% Kinerja kedua sektor tersebut relatif baik sepanjang 2012 yang diindikasikan oleh pertama, pertumbuhan yang diperkirakan mencapai 8,1% (yoy, pdb harga konstan) untuk sektor PHR dan 7,1% (yoy) untuk jasa dunia usaha. Kedua, risiko yang relatif rendah tercermin dari rendahnya rasio NPL (gross) perbankan nasional ke masing-masing sektor yaitu 2,4% untuk sektor PHR dan 0,9% untuk sektor jasa dunia usaha. Sementara itu, seiring perlambatan pertumbuhan pembiayaan bank syariah, alokasi pembiayaan ke beberapa sektor menurun, diantaranya sektor industri pengolahan dan konstruksi. Pertumbuhan pembiayaan BUS dan UUS pada kedua sektor tersebut selama periode laporan lebih rendah dari pertumbuhan pembiayaan secara keseluruhan yaitu masing-masing sebesar 22,9% (yoy) untuk sector industri pengolahan dan 21,9% (yoy) untuk sektor konstruksi.
Pembiayaan ke sektor properti pada periode laporan tercatat meningkat Rp8,1 triliun atau 70,2% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah Pertumbuhan signifikan tersebut terutama ditopang oleh ekspansi pembiayaan kepemilikan rumah yang mencapai Rp6,8 triliun dan pembiayaan kepada developer real estat sebesar Rp1,1 triliun. Kebijakan pembatasan loan to value kredit kepemilikan rumah diperkirakan turut mendukung pertumbuhan tersebut, mengingat ekspansi pembiayaan properti BUS dan UUS yang dalam periode laporan banyak dialokasikan pada tipe rumah di atas 70 m2 dan atau pengembang rumah non sederhana. Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, pangsa pembiayaan properti perbankan syariah mencapai 13,3%, atau menjadi salah satu sektor pembiayaan terbesar perbankan syariah.
Pembiayaan berdasarkan klasifikasi pembiayaan mikro, kecil dan menengah (MKM) sebagaimana pada laporan periode-periode sebelumnya, masih menjadi prioritas penyaluran dana perbankan syariah. Pola pembiayaan yang digunakan antara lain melalui linkage antara bank umum dengan BPRS atau lembaga keuangan, melalui jaringan/unit mikro yang berdiri sendiri atau melekat pada kantor cabang bank, dan partisipasi dalam penyaluran KUR dan fasilitas pembiayaan kepemilikan rumah yang menjadi program pemerintah. Mengacu pada UU No. 20 tahun 2008 mengenai Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), pembiayaan yang disalurkan BUS dan UUS dalam bentuk pembiayaan modal kerja dan investasi untuk UMKM tercatat meningkat Rp12,4 triliun menjadi Rp59,7 triliun, atau tumbuh sebesar 26,1% (yoy). Sementara pada BPRS pembiayaan untuk UMKM sebesar Rp2,1 triliun, sehingga total pembiayaan UMKM yang disalurkan perbankan syariah per posisi akhir tahun 2012 mencapai Rp61,8 triliun, atau 40,9% dari total Pembiayaan. Sementara pembiayaan MKM untuk kepentingan selain usaha (konsumsi) mencapai Rp31,2 triliun atau 20,6% dari total pembiayaanperbankan syariah, sehingga total pembiayaan MKM mencapai Rp92,9 triliun atau 61,5% dari total pembiayaan.
Prospek perbankan syariah pada tahun mendatang diperkiraakan cukup baik, mengingat perkembangan sampai dengan tahun 2013 seperti yang telah dikemukakan diatas.Baik dari sisi
volume usaha yang ditopang dengan adanya perluasan jaringan kantor maupun dilandasi dari ketentuan–ketentuan yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Berikut ini data perkembangan bank syariah terbaru menurut Outlook Perbankan Syariah 2014 yang di rilis Bank Indonesia:
KELOMPOK BANK 2011 2012 2013
BANK UMUM SYARIAH 11 11 11
UNIT USAHA SYARIAH 24 24 23
Jumlah Kantor 1737 2262 2526
BPRS 155 158 160
Jumlah Kantor 364 401 399
JUMLAH ACCOUNT DPK 8,2 10,8 12,3
JUMLAH PEKERJA 27.660 31.578 42.062
Jumlah perbankan syariah (per Oct-13) tercatat berkurang 1 UUS (imbas restrukturisasi HSBC amanah global Terdapat 2 BPRS baru (HIK Makassar & Mitra Agro Usaha Lampung))
• Jumlah kantor BUS-UUS (hingga Oct-13) bertambah 264 kantor
• Jumlah account nasabah yang dikelola 12,3 juta (BUS-UUS), meningkat 13,9% dari 2012 (ytd)
• Jumlah pekerja di industri perbankan syariah diperkirakan 42 ribu pekerja, meningkat ±33,2% dari 2012
Untuk kinerja keuangan kondisi likuiditas BUS relatif tetap, rata-rata tertimbang AL/NCD BUS 79,0% (78,5% pada akhir 2012). Dilihat dari jenis akadnya, secara umum penyaluran pembiayaan perbankan syariah masih didominasi oleh akad murabahah. Pada periode laporan pembiayaan murabahah tumbuh 56,1% sehingga menempati pangsa 59,7% dari total pembiayaan BUS dan UUS. Sementara pada pembiayaan BPRS pangsa akad murabahah mencapai 80,3%. Pemanfaatan akad-akad lain dalam pembiayaan berubah secara dinamis, khususnya pada kelompok BUS dan UUS. Pada periode laporan, penggunaan akad ijarah dalam pembiayaan BUS dan UUS tercatat tumbuh 91,3% (yoy) sehingga pangsa pembiayaan ijarah meningkat dari 3,7% pada tahun 2011 menjadi 5,0% pada tahun 2012. Sebaliknya pembiayaan berbasis qardh yang tahun lalu berkembang pesat, pada periode laporan mengalami perlambatan -6,5% (yoy) yang dipengaruhi oleh kebijakan perbankan syariah memperkuat kehati-hatian dalam penjualan produk rahn emas. Perlambatan tersebut menurunkan pangsa pembiayaan berbasis qard dari 12,6% menjadi 8,2% dalam periode yang sama. Pembiayaan lain yang pangsanya tercatat mengalami penurunan dalam periode laporan adalah pembiayaan bagi hasil, yaitu dari 28,4% menjadi 26,9%.

Dalam jangka waktu ke depan,prospek Bank Syariah di harapkan terus mengalami kemajuan,ini di karenakan ada beberapa factor penunjang diantaranya:

•Sesuai prakiraan ekonomi 2014, sektor berorientasi ekspor, sektor industri, PHR, jasa dan pertanian, berpeluang memperkuat laju pertumbuhan perbankan
•Rencana kementerian BUMN untuk mendirikan bank BUMN syariah
•Rencana kementerian agama untuk merealisasikan pengalihan sebagian besar dana haji ke bank syariah
•Sosialisasi iB & digaungkannya GRES! secara nasional yg berdampak pada sinergi sektoral & naiknya minat transaksi keuangan syariah
Akhir tahun 2014, total asset perbankan syariah diperkirakan Rp255,2 triliun (pesimis), Rp283,6 triliun (moderat) dan maksimal Rp312 triliun (optimis) sementara total DPK diperkirakan di kisaran Rp209,6 triliun (pesimis), Rp220,7 triliun (moderat) dan Rp232,8 triliun (optimis) dan, total pembiayaan akan mencapai minimal Rp216,7 triliun (pesimis), Rp228 triliun (moderat) dan maksimal Rp239,5 triliun (optimis). Berdasarkan tiga skenario tersebut, pangsa pasar perbankan syariah pada akhir tahun 2014 diperkirakan antara 5,25%-6,25%.

DAFTAR PUSTAKA

Bank Indonesia. Laporan Tahunan 2012.
Bank Indonesia, Laporan Perkembangan Perbankan Syariah Tahun 2012.

Muhammad,2003,Manajemen Bank Syariah,Yogyakarta:UUP AMYKPN

Iklan

Posted on 18 Januari 2015, in Economic&Accounting and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: